Showing posts with label Perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label Perpustakaan. Show all posts

Thursday, January 12, 2017

Ilmu perpustakaan  TEKNOLOGI INFORMASI*

Ilmu perpustakaan TEKNOLOGI INFORMASI*


PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI

  • Kata Teknologi Informasi berasal dari kata Information Technology.
  • Kata Technology berdasarkan Kamus Advanced Leaner's Dictionary of Current English (1974) yaitu penerapan pengetahuan secara sistematis pada tugas-tugas praktis dalam suatu industri.
  • Menurut Sulistyo-Basuki (1992:81) dinyatakan bahwa Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksanaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan.Menurut Pendit (1992) Informasi yaitu kumpulan data yang terstruktur, yang disampaikan seseorang kepada orang lain.
  • Pengertian Teknologi Informasi berdasarkan pengertian dari British Advisory Council for Applied Research and Development (Dalam Zorkoczy, 1990: 12). yaitu : Bidang-bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan perekayasaan serta teknik-teknik pengelolaan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan informasi, penerapan bidang dan teknik tersebut, komputer dan interaksinya dengan insan dan mesin, persoalan sosial ekonomi serta budaya yang berkaitan.
  • Khusus di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi Sulistyo-Basuki(1993) menyatakan bahwa Teknologi Informasi yaitu teknologi yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, menghasilkan, dan menyebar- luaskan informasi.
FUNGSI TEKNOLOGI INFORMASI

FUNGSI UTAMA TEKNOLOGI INFORMASI
  • Mengatur gosip 'Ing Griyo' (In-house information), atu innformasi yang ada di dalam lembaga gosip tsb, serta mengusahakannya biar dapat ditemu balik.
  • Mengakses pangkalan data luar (ekstern), yaitu panngkalan data dari lembaga-2 lain, maupun pecahan dunia lain.

    FUNGSI-FUNGSI LAIN:

  • Meringankan beban kerja,
  • Efisien dan menghemat waktu,
  • Meningkatkan jasa Perpusdokinfo dan fungsi-fungsi baru,
  • Membangun jaringan kerja dan kerjasama.
ALASAN UNTUK MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI INFORMASI

  • Untuk meningkatkan kegunaan (advantage)
  • Untuk membuatkan produktivitas dan kinerja
  • Untuk memfasilitasi sarana gres untuk pengelolaan dan pengorganisasian
  • Untuk membuatkan urusan ekonomi baru
THE MAIN CONSTITUENT OF I. T.


METODE-2 YANG DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI

  1. Media simpan optic
    Metode untuk merekam pengetahuan termasuk komputer dan perangkat lunaknya serta media simpan-optik. Dengan metode ini suatu pangkalan data lengkap memungkinkan pemakai menelusuri direktori, ensiklopedia, data statistic, dan keuangan.
  2. Metode menyimpan cantuman
    Metode menyimpan cantuman mengenai banyak sekali acara termasuk perangkat keras komputer dan perangkat lunaknya menyerupai yang digunakan untuk merancang bangun, dan menciptakan serta menyunting cantuman dalam pangkalan data.
  3. Metode mengindeks dokumen dan informasi, termasuk teknik pembuatan indeks dengan komputer untuk memudahkan temu balik gosip dalam suatu pangkalan data dalam komputer.
  4. Metode mengkomunikasikan pengetahuan., antara lain: a) sistem pos elektronik, b) system transmisi faksimil, c) majalah elektronik, d) telekonferens atau yuang dikenal dengan nama trimitra,e) videokonferens dan f) jaringan komunikasi data, untuk mengkomunikasikan data dalam bentuk terbacakan mesin.
POHON TEKNOLOGI INFORMASI

Cakupan Teknologi gosip meliputi
  • Telekomunikasi. Contoh penerapannya yaitu : adanya Teleconference atau yang sekarang dikenal dengan nama Trimitra; Telkom Memo; Lacak, dll.
  • Komputer, termasuk mikrobentuk. Contohnya yaitu, perlindungan data, sistem pakar, komunikasi bunyi dengan perlindungan komputer.
  • Jaringan digital, contohnya antara lain adanya surat elektronik, sistem informasi, jaringan informasi
  • Audio dan video, termasuk sistem komunikasi optik. Contoh : Video Conference, Video-teks ,dll.
Teknologi gosip mengalami kemajuan dalam dua arah:
  • Pengembangan produk, yaitu pengembangan perangkat sistem dan konsep konsepnya (gagasan, prosedur), dengan cakupan aplikasi di segala bidang yang mengharuskan insan bekerjasama dengan informasi, dilihat dari perangkat yang digunakan.
  • Aplikasi produk dan konsep tsb. pada sejumlah acara tertentu, antara lain di bidang industri, keuangan dan perdangan, percetakan, militer, dan untuk pengelolaan pekerjaan di kantor.
Aplikasi teknologi gosip yang tercakup dalam ruang lingkup suatu sistem informasi
  • Library housekeeping ( Pengelolaan perpustakaan)
  • Information retrieval (Temu kembali gosip / Penelusuran Informasi)
  • General purpose software (Perangkat lunak untuk banyak sekali macam keperluan)
  • Library networking (Jaringan kerjasama perpustakaan )
--> Library Housekeeping
Library housekeeping atau pengelolaan perpustakaan, merupakan istilah umum yang mengacu pada banyak sekali macam acara rutin yang perlu dilakukan biar supaya perpustakaan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan adanya kemajuan teknologi gosip dapat dilakukan dengan menggunakan sistem yang terpadu yang terdiri dari beberapa modul, yaitu akuisisi atau pengadaan, pengatalogan, sirkulasi, pengaksesan katalog oleh umum atau yang dikenal dengan nama OPAC (Online Public Akses Catalog), dan peminjaman antar perpustakaan. Sistem gosip yang terpadu di perpustakaan secara umum dikenal dengan nama Automasi Perpustakaan.

Pengertian Otomasi Perpustakaan

> Dari segi etimologi berasal dari bahasa Inggris yaitu Library Automation.
> Kata Automation di dalam Microcomputer dictionary berarti :1) Perubahan dari suatu proses atau prosedur secara otomatis;     2) Pelaksanaan proses dengan sarana-sarana otomatis
> Konsep Automasi berdasarkan Encyclopedia of Science and Technology, Vol.1, berarti penerapan mesin-mesin komputer pada penyimpanan, pemrosesan data-data bisnis, teknis, maupun ilmiah.
> Automasi perpustakaan berarti penggunaan komputer untuk semua acara perpustakaan mulai dari pengadaan, pengolahan, hingga ke layanan sirkulasi, dalam suatu sistem yang terintegrasi.

JENIS-2 JARINGAN INFORMASI

> LAN yaitu suatu jaringan komputer dengan tempat kerja relatif kecil, dalam satu lokal; dan
> Metropolitat Area Network (MAN ), dengan tempat kerja antara 30 hingga 50 km, yang merupakan alternatif pilihan untuk membangun jaringan komputer kantor-kantor dalam satu kota.
> WAN yaitu jaringan komputer yang tempat kerjanya mencakup radius antar kota, antar pulau, dan bahkan antar benua.


* Ini yaitu materi presentasi Kuliah TI Bu Ati Kamis 14 April 2011, semoga bermanfaat dan selamat menikmati..
Ilmu perpustakaan  Sustainability Perpustakaan Komunitas sebagai Sarana Pemberantasan 3B dan Peningkatan Literasi Informamsi Masyakat Semarang

Ilmu perpustakaan Sustainability Perpustakaan Komunitas sebagai Sarana Pemberantasan 3B dan Peningkatan Literasi Informamsi Masyakat Semarang


Ehhm., lama juga gak ngutak atik isi blog ini hingga karenanya ada paksaan buat nulis lagi yang terpampang di papan pengumuman fakultas.

Perburuan inspirasi dimulai, mulai dari nongkrong di NBC, Sampoerna Corner hingga nyepi di koleksi serial perpustakaan Undip hingga karenanya FB menemukan aq dengan Mas Endhar yang memberi masukan untuk menulis wacana Perpustakaan Komunitas. Gak kelamaan berfikir karenanya kepikiran sebuah judul, Sustainability Perpustakaan Komunitas sebagai Sarana Pemberantasan 3B dan Peningkatan Literasi Informasi Masyarakat di Semarang. Berikut ini ialah ringkasanya:
Buta huruf menjadi duduk perkara serius bagi pemerintah Indonesia khususnya Semarang. Pemerintah masih terus berusaha memberantas 3B (buta aksara/ buta huruf, buta info dasar dan buta bahasa Indonesia). Pada tahun 2010 di Jawa Tengah angka buta huruf masih terbilang tinggi. Dari 1.553.778 penduduk Jawa Tengah setidaknya terdapat 10,05 % anak hingga usia 15 tahun yang masih buta aksara, 1,32 % di rentang usia 15 hingga 44 tahun dan 23,52 % penduduk usia 45 keatas masih buta aksara.

Tulisan ini mengajukan gagasan untuk menekan tingginya angka 3B termasuk di salamnnya ialah buta abjad melalui perpustakaan komunitas atau yang di Semarang lebih dikenal dengan istilah Rumah Pintar. Saat ini di Semarang tercatat ada 194 Rumah Pintar, 70diantaranya kurang aktif dan 16 sudah tidak aktif. Sangat disayangkan apabila perpustakaan yang merupakan sarana pembelajaran sepanjang hayat justru banyak yang tidak aktif alasannya kurangnya inovasi, pendekatan pengelola dan kurangnya perhatian masyarakat sekitar.

Melihat pentingnya tugas perpustakaan dalam sebuah komunitas harus ada inovasi-inovasi gres dalam mengelola perpustakaan biar keberadaan perpustakaan dapat terus terjaga. Perpustakaan harus berbenah diri dengan menggandeng pihak lain biar perpustakaan dapat bertahan dan berkembang. Kerjasama dapat dilakukan dengan pemerintah ataupun swasta di banyak sekali bidang aktivitas perpustakaan komunitas . Melalui kerjasama perpustakaan memperoleh banyak manfaat, diantaranya: 1). Efisiensibiaya dan waktu, 2). Menghindari overload alasannya begitu banyaknya sumber info yang ada 3). Membangun kebersamaan dan penguatan komunitas4). Explore Resources: lebih mudah menggali potensi yang ada di dalam komunitas 5). Percepatan pencapaian tujuan bersama. Agar dapat berjalan dengan maksimal, kerjasama perpustakaan harus melalui persiapan yang matang dengan didasari kebijakan yang jelas. Kerjasama dapat menguatkan keberadaan perpustakaan komunitas dan perpustakaan yang berpengaruh menjadi kawasan pembelajaran sepanjang hayat bagi komunitas penggunanya.

Untuk unduh full text goresan pena ini, silahkan klik KARYA TULIS ILMIAH ini. Semoga bermanfaat.

Ilmu perpustakaan Rakernas HMPII 2012

23 Maret 2012, hari yang cukup bersejarah bagi saya. Bukan apa-apa, tapi hari ini pertamakalinya  saya keluar kota naik bus umum. xixixi.... piiiissss.... Jumat sore saya bersama 4 sobat berangkat ke UIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta sebagai delegasi dari HMJ Ilmu Perpustakaan Undip dalam Rakernas HMPII 2012. Tiga hari di Jogja bersama delegasi dari seluruh Indonesia merupakan pengalaman tersendiri bagi saya. Bagaimana acaranya? Ini laporan saya di website HMJ Ilmu Perpustakaan Undip.

Menindaklanjuti Kongres Luar Biasa Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Indonesia ( KLB HMPII) yang diselenggarakan di Universitas Airlangga 18 – 21 November 2011 lalu, tanggal 24 – 26 Maret 2012 diselenggarakan Rapat Kerja Nasional HMPII di Yogyakarta. UIN Sunan Kalijaga bertindak selaku tuan rumah kegiatan ini. Rakernas ini dihadiri 65 perwakilan mahasiswa dari 11 perguruan tinggi tinggi di Indonesia yang membuka kegiatan studi ilmu perpustakaan.

Rakernas dibuka oleh Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Tafrikhuddin, S.Ag., M.Pd. dan terdiri dari serangkaian acara. Sabtu pagi dimulai dengan seminar nasional dengan tema “membangun abjad pustakawan, menciptakan perpustakaan humanis.”Seminar ini menghadirkan tiga pembicara, Anis Masruri, S.Ag., S.IP., M.Si. (Dosen UIN Suka), Drs. Supriyanto, M.Si., (Pustakawan Utama Perpusnas), dan Sukirno, S.IP., MA. (Pustakawan UGM dan Ketua IPI Yogyakarta). Selain akseptor Rakernas HMPII 2012, seminar ini juga dihadiri oleh mahasiswa ilmu perpustakaan, dosen, pustakawan maupun umum. Setelah seminar nasional kegiatan dilanjutkan dengan bedah buku yang berjudul Fundraising Taman Bacaan Masyarakat (TBM) goresan pena Muhsin Kalida oleh Trini Haryanti, Direktur YPPI.
Hari kedua ialah kegiatan inti, Rakernas HMPII 2012. Rakernas HMPII diselenggarakan di Ruang Pertemuan Hotel Kayu Manis, komplek wisata Kaliurang, Yogyakarta. Rakernas ini memunculkan ide-ide segar yang nantinya dapat diterapkan secara nasional. Salah satu kegiatan kerjanya ialah pendampingan perpustakaan dan/atau TBM di tempat masing-masing akseptor serta beberapa rekomendasi untuk kemajuan HMPII.

Hari ketiga kegiatan ditutup di Hotel Kayumanis dan dilanjutkan Safari Perpustakaan Yogyakarta. Kunjungan yang pertama ialah ke Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kunjungan dilanjutkan ke Cangkruk Pintar di Jl. Nologaten, Gg. Selada 106, Depok, Sleman Yogyakarta dan ke Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah dari Perpustakaan UIN sunan Kalijaga, akseptor Rakernas diajak ke Malioboro alasannya ialah kunjungan ke perpustakaan Kota Yogyakarta dibatalkan. 

Ilmu perpustakaan SLiMS Sangat Menarik untuk Dipelajari

Judul ini terpampang di website Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan FIB Undip 22 Juni Kemarin. Memang benar, SLiMS sangat menarik dan mudah untuk dipelajari. Pengalaman saya selama ini, jikalau ada kendala selalu ada solusi di forum atau group jejaring sosial. Yang terpenting ialah adanya kemauan untuk mencoba memecahkan duduk perkara yang sedang dihadapi. Berawal dari coba-coba, saya karenanya semakin suka ngutak-ngatik SLiMS. Dulu seminggu sekali berguru bareng 6 sobat kampus, di pelataran kampus, perpustakaan, dimanapun yang penting nyaman. Beberapa waktu lalu juga sempat berguru mengonlikan SLiMS di hosting gratisan. Ini hasilnya.

Bermodal sedikit pengalaman ini, saya beranikan diri mendapatkan proposal dari panitia pelatihan SLiMS di kampus untuk mengisi acara. Wow.. berat juga ya. Apa mau dikata, kesempatan yang terlalu sayang dilewatkan. Terima. Seperti apa serunya sinau bareng SLiMS kali ini..? Berikut laporan dari website HMJ Ilmu Perpustakaan UNdip.

Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HMJ IP) Universitas Diponegoro telah berhasil menyelenggarakan pelatihan Senayan Library Management System atau yang lebih dikenal dengan SLiMS. Pelatihan SLiMS versi 3.15 ini merupakan salah satu kegiatan kerja Departemen Humas. Pelatihan diselenggarakan Minggu, 17 Juni 2012 di ruang A.3.9 Fakultas Ilmu Budaya Undip. Pelatihan diikuti oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan Undip angkatan 2010 dan 2011 dan diisi 6 tentor mahasiswa yang telah berpengalaman di bidangnya. Antusiasme terlihat ketika pendaftaran dibuka. Selain sebab keingintahuan penerima mengenai SliMS, biaya yang dikenakan terbilang murah yaitu Rp. 15.000,00. Namun, banyak mahasiswa yang merasa kecewa sebab kuota penerima dibatasi hanya 60 orang.

Acara berjalan lancar meskipun tidak sesuai jadwal sebab menunggu kehadiran Dra. Sri Ati, M.Si yang akan menunjukkan sambutan sekaligus membuka acara. Pelatihan diawali dengan sambutan ketua panitia Angga Pradipta, dilanjutkan oleh ketua HMJ IP Jefri Eko Cahyono serta Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Undip. Acara pelatihan dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba DDC (Dewey Decimal Classification) dan menulis cerpen yang telah diselenggarakan Departemen Humas dalam rangka memperingati hari buku sedunia 23 Mei 2012 lalu.

“Awalnya sangat antusias sekali sebab SLiMS sangat menarik untuk dipelajari. Namun, sayang banyak yang meninggalkan pelatihan sebelum kegiatan selesai.” Ujar salah satu penerima pelatihan. Sebagai kegiatan selingan untuk mencegah kebosanan, panitia mengadakan games menarik seusai istirahat. Setelah games, penerima terlihat segar kembali dan siap untuk melanjutkan pelatihan SLiMS. Acara ditutup dengan pengenalan SLiMS terbaru yaitu versi 5 yang memiliki fitur-fitur yang lebih menarik dari versi-versi sebelumnya. Hal ini untuk menumbuhkan minat penerima untuk mempelajarinya SliMS versi-versi lainnya.

Wednesday, January 11, 2017

Ilmu perpustakaan Pelatihan SLiMS (lagi)

Libur kuliah harus tetap produktif. Setelah Minggu 17 Juni lalu Himpunan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Undip mengadakan pelatihan SLiMS, hari ini giliran Prodi Ilmu Perpustakaan membuat program serupa tapi tak sama, sebut saja kembar identik. Konsep program boleh sama, tapi tentu ada perbedaan sehingga tidak ada pengulangan program yang sama dalam waktu jang sesingkat-singkatnya. Lantas apa yang membedakan pelatihan SLiMS hari ini dan 17 Juni kemarin?

Ada beberapa perbedaan mendasar diantara dua program pelatihan ini. Yang pertama yakni peserta, jikalau kemarin akseptor yakni mahasiswa 2010 dan 2011 sedangkan yang tadi mahasiswa 2008 dan sisa kuota untuk mahasiswa 2009. Harapanya pelatihan SLiMS ini nanti dapat menjadi bekal lulus mahasiswa Ilmu Perpustakaan 2008 yang sebagian besar sudah tinggal menunggu lulus. Selain itu pembatasan akseptor ini ditujukukan biar tidak ada akseptor yang mengikuti di kedua acara. Pelatihan ini juga menggunakan versi SLiMS yang berbeda. Kalau SLiMS 17 Juni menggunakan SLiMS 3.15 (psenayan 3.14) pelatihan hari ini menggunakan SLiMS versi 5 dengan codename Meranti. Kedua versi SLiMS ini memang mirip, tetapi ada embel-embel di sana-sini pada SLiMS Meranti. Perbedaan selanjutnya yakni pada tentornya. Kalo kemarin tentor produk lokal dari mahasiswa ilmu perpustakaan, saya dkk, pelatihan tadi mendatangkan dari pegiat SLiMS dari Komunitas SLiMS Jogja, Pak Purwoko. Perbedaan berikutnya yakni pelatihan yang kemarin dikenakan biaya Rp 15.000 saja, yang hari ini GRATIS karena PRKP. Mahasiswa, anak kos, dengar sesuatu berbau GRATIS..? Berangkaaatt....!


*nb. Kunjungi website resmi SLiMS http://slims.web.id/, Anda bisa download SLiMS versi terbaru hingga yang lama disini. Sebelum mendalami SLiMS ada baiknya membaca pertanyaan-pertanyaan umum terkait SLiMS disini dan panduan lengkap mengenai SLiMS bisa download ebooknya disini. Mau video juga ada, cek akun di youtube saja. Ada kendala setelah mengikuti panduan yang ada? Jangan bingung, cari solusi di forum saja. Selain di forum, mampu juga mencari tunjangan melalui group facebook, Senayan Library Automation, Komunitas SLiMS Jawa Tengah, atau komunitas lain yang tersebar hampir di setiap kota. Salam MERDEKA..!

Ilmu perpustakaan Ergonomi Perpustakaan

PELAYANAN PRIMA

Pelayanan prima yaitu pelayanan yang berkualitas. Penilaian kualitas pelayanan menurut konsumen didasari pada 5 indikator yaitu: tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty. Kelima indikator tersebut dijadikan 5 dimensi untuk mengukur dan menilai suatu kualitas pelayanan, yaitu:

1.TANGIBLE (Bukti Langsung/Bukti Terukur)
Tangible yaitu sesuatu yang mudah untuk diukur. Meliputi kemudahan penampilan fisik menyerupai gedung dan ruangan dari depan gedung hingga ruang dan sarana lainnya yang menggambarkan kemudahan fisik, perlengkapan, dan tampilan dari perpustakaan. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perpustakaan dan keadaan lingkungan sekitarnya yaitu bukti konkret dari pelayanan yang diberikan oleh pustakawan. Secara fisik dapat terlihat atau digunakan oleh pemustaka dengan penggunaan dan pemanfaatannya yang dapat dirasakan membantu pelayanan yang diterima oleh orang yang menginginkan pelayanan, sehingga puas atas pelayanan yang dirasakan, yang sekaligus menunjukkan prestasi kerja atas perlindungan pelayanan yang diberikan (Parasuraman, 2001:32). Sedangkan indikator dari bukti pribadi atau tangible dalam penelitian yaitu :

a.Fasilitas yang ada terjaga baik menyerupai ruangan ber-AC, daerah duduk yang nyaman, kondisi perpustakaan yang bersih.
b.Penggunaan komputerisasi dalam segala pelayanannya sehingga lebih cepat dan praktis.
c.Koleksi yang ada dapat memenuhi keinginan pemustaka

Contoh :
Ketika suatu perpustakaan menyampaikan pelayanan terbaik untuk para pemustakanya, maka pelayanan yang diberikan oleh pustakawan itu selain pada kualitas koleksi yang ditawarkan juga berupa pelayanan yang lain yang tidak dapat secara kasat mata dilihat oleh pemustaka, menyerupai keramahan pelayannya menyerupai mengucapkan salam ketika pemustaka datang, dan lain sebagainya yang bahwasanya tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan secara pribadi oleh pemustaka tersebut. Sedangkan bukti pribadi yang dilakukan perpustakaan untuk pemustakanya misalnya pada perpustakaan tersebut menyampaikan pelayanan pada pemustaka yang semisal meliputi kemudahan fisik dari koleksi yang ditawarkan itu sendiri. Tersedianya daerah parkir, kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan, tersedianya sarana komunikasi, serta kerapian penampilan pustakawannya.

2.RESPONSIVENESS (Daya Tanggap)
Responsiveness yaitu respons atau kesigapan pustakawan dalam membantu pemustaka dan menyampaikan pelayanan yang cepat dan tanggap, meliputi kesigapan pustakawan dalam melayani pemustaka, kecepatan pemustaka dalam menangani seruan informasi, dan penanganan keluhan pemustaka dan kesediaan untuk membantu pemustaka serta menyampaikan perhatian.

Responsiveness, atau daya tanggap yaitu suatu kemauan untuk membantu dan menyampaikan pelayanan yang cepat (responsif) dan sempurna kepada pemustaka, dengan penyampaian gosip yang jelas. Definisi daya tanggap (responsiveness) menurut Tjiptono (2007) yaitu keinginan para staf dan pustakawan untuk membantu para pemustaka dan menyampaikan pelayanan dengan tanggap. Sehingga dimensi kualitas daya tanggap ini di dalam sebuah perpustakaan harus benar-benar diwujudkan secara baik biar pemustaka merasa dihargai atas jawaban atau respons dari perpustakaan atas segala keinginan dari pemustaka. Indikator daya tanggap atau responsiveness dalam penelitian ini yaitu :

a.Pustakawan melayani dan menanggapi pemustaka dengan cepat dan tepat
b.Pustakawan menyampaikan pengarahan dengan bijaksana dan sebaik-baiknya kepada setiap pemustaka untuk mengikuti aturan yang diterapkan perpustakaan.
c.Pustakawan melayani, mengarahkan, membujuk pemustaka ketika menghadapi permasalahan yang sulit dan membantu menyampaikan gosip yang dibutuhkan.

Respons yang dimaksud sebaik-baiknya cara perpustakaan dalam mendapatkan entah itu permintaan, keluhan, saran, kritik, keluhan, dan sebagainya atas koleksi atau bahkan pelayanan yang diterima oleh pemustaka. Hal ini memerlukan adanya penjelasan yang bijaksana, mendetail, membina, mengarahkan dan membujuk biar menyikapi segala bentuk-bentuk prosedur dan mekanisme kerja yang berlaku dalam suatu organisasi, sehingga bentuk pelayanan mendapat respons positif (Parasuraman, 2001).

Contohnya :
Ketika perpustakaan menanggapi keluhan, saran atau seruan yang dilayangkan pemustaka dengan segera dan sebaik-baiknya maka respons positif juga akan ditunjukkan pemustaka terhadap pustakawan. Dapat dimisalkan pada perpustakaan dikala mendapat keluhan dari pemustaka alasannya yaitu suatu hal tertentu maka perpustakaan harus menyampaikan pelayanan dengan menanggapi keluhan tersebut dan meresponsnya sesuai dengan prosedur yang diterapkan oleh perpustakaan. Namun apabila pemustaka tersebut kurang mengerti dengan banyak sekali prosedur perpustakaan maka peran dari pustakawan yang menanggapi keluhan tadi menyampaikan pengertian secara terperinci dan bijaksana atau menyampaikan alternatif pilihan sehingga jangan hingga terkesan perpustakaan mempersulit dengan banyak sekali peraturan yang mengada-ada dan keluhannya tidak ditanggapi selayaknya.

3.EMPHATY (Empati)
Empati yaitu meliputi rasa peduli/perhatian untuk menyampaikan kemudahan dalam melaksanakan hubungan, kemampuan pustakawan untuk berkomunikasi yang baik, dan perjuangan perpustakaan memahami kebutuhan pemustakanya. Dimensi ini merupakan gabungan dari dimensi acces (akses) yaitu kemudahan untuk memanfaatkan jasa yang ditawarkan menyerupai kemudahan saluran komunikasi yang lancar dan mudah, lokasi kemudahan mudah dijangkau, dan waktu pelayanan yang tidak terlalu lama. Dan mencakup kepedulian serta perhatian individual kepada para pemustaka.

Definisi empati dalam pemasaran menurut Nursodik (2010) yaitu perhatian secara individual yang diberikan perpustakaan kepada pemustaka menyerupai kemudahan dalam menghubungi pustakawan, kemampuan pustakawan untuk berkomunikasi dengan pemustaka, dan kebutuhan pemustakanya.
Indikator empati atau empathy yaitu :

a.Prosedur pelayanan perpustakaan yang tidak berbelit-belit dalam melayani setiap kebutuhan pemustaka.
b.Pelayanan perpustakaan, pustakawan mudah untuk dihubungi oleh pemustaka.
c.Pustakawan mengetahui dan merespons dengan ramah, sopan, dan cekatan apa keinginan pemustaka.

Di mana suatu perpustakaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan perihal pemustaka, memahami kebutuhan pemustaka secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pemustaka (Zethmal, Parasuraman dan Berry dalam Lupiyoadi, 2001: 148).

Empathy (empati) berkaitan dengan kemudahan dalam mendapatkan pelayanan, keramahan, komunikasi, dan kemampuan memahami kebutuhan pemustaka. Pelayanan akan berjalan dengan lancar dan berkualitas apabila setiap pihak yang berkepentingan dengan pelayanan memiliki adanya rasa empati (empathy) dalam menyelesaikan atau mengurus atau memiliki komitmen yang sama terhadap pelayanan (Parasuraman, 2001: 40).

Sedangkan Zoeldhan (2012) mengatakan bahwa empati dalam suatu pelayanan yaitu adanya suatu perhatian, keseriusan, simpatik, pengertian dan keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dengan pelayanan untuk berbagi dan melaksanakan kegiatan pelayanan sesuai dengan tingkat pengertian dan pemahaman dari masing-masing pihak tersebut. Empati membutuhkan adanya saling mengerti satu sama lain antara pustakawan atau pemustaka biar tercipta suatu relasi yang seimbang atau selaras dalam perpustakaan tersebut. Intinya dalam setiap pelayanan yang dilakukan sangat diharapkan adanya kehadiran empati terhadap segala hal di dalamnya.

Contohnya :
Ketika pemustaka membutuhkan pelayanan apapun dari perpustakaan maka perpustakaan menyampaikan suatu pelayanan yang sebaik-baiknya dengan banyak sekali prosedur yang ada. Sedangkan pemustaka yang minta dilayani juga seharusnya memahami dan mengerti dengan banyak sekali kondisi yang ada di perpustakaan dengan tidak memaksakan kehendak yang berlebihan sehingga tercipta relasi yang saling mengerti antara perpustakaan dengan pemustaka.

4.RELIABILITY (Keandalan)
Reliability yaitu kemampuan untuk menyampaikan pelayanan yang sesuai dengan komitmen yang ditawarkan. Reliability (keandalan), merujuk kepada kemampuan untuk menyampaikan pelayanan yang dijanjikan secara akurat dan handal. Dalam melayani pemustaka sebaik-baiknya dan karenanya bisa menyampaikan suatu kepuasan kepada pemustaka tak bisa terlepas dari kehandalan atau reliability dari perpustakaan tersebut dalam menunjukkan kualitas terbaiknya sehingga pemustaka merasa puas dan tidak merasa keliru telah menggunakan koleksi dari perpustakaan tersebut. Sedangkan definisi kehandalan atau reliability itu sendiri menurut Parasuraman (2001) yaitu setiap pustakawan memiliki kemampuan yang handal, mengetahui mengenai seluk belum prosedur kerja, mekanisme kerja, memperbaiki banyak sekali kekurangan atau penyimpangan yang tidak sesuai dengan prosedur kerja dan bisa menunjukkan, mengarahkan dan menyampaikan isyarat yang benar kepada setiap bentuk pelayanan yang belum dimengerti, sehingga memberi dampak positif atas pelayanan tersebut. 

Indikator dari kehandalan atau reliability yaitu :
a.Jam operasional pelayanan perpustakaan yang panjang (08.00-17.00).
b.Pustakawan yang handal dan cekatan dalam melayani pemustaka.
c.Pustakawan bisa atau menguasai penggunaan teknologi secara baik yang ada di dalam perpustakaan.

Kehandalan yang dimaksud dapat meliputi bagaimana kualitas kinerja pustakawan, kehandalan dalam menggunakan keterampilan mereka dikala melayani pemustaka, dan sebagainya. Sama halnya ketika Zoeldhan (2012) mengatakan bahwa kehandalan merupakan bentuk ciri khas atau karakteristik dari pustakawan yang memiliki prestasi kerja tinggi. Kehandalan dalam perlindungan pelayanan dapat terlihat dari kehandalan menyampaikan pelayanan sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, kehandalan dalam terampil menguasai bidang kerja yang diterapkan sesuai dengan keterampilan yang mereka punya, kehandalan dalam penguasaan bidang kerja sesuai pengalaman kerja yang ditunjukkan dan kehandalan menggunakan teknologi kerja yang ada. Uraian teori di atas merupakan bentuk kualitas layanan dari kehandalan dalam suatu organisasi dapat ditunjukkan dengan kehandalan pemberi pelayanan.

Contohnya :
Kehandalan atau reliability di sini dapat dimisalkan pada perpustakaan. Mereka menunjukkan kehandalan mereka dengan bagaimana bekerja dengan perangkat yang ada di perpustakaan dan menunjukkan kualitas terbaiknya kepada pemustaka, mulai dari bagaimana kehandalan para pustakawannya mengolah keterampilan yang mereka miliki dan sebagainya. Dari situ pemustaka akan merasa bahwa perpustakaan yang mereka kunjungi pantas dengan keprofesionalannya. Semakin baik reliability atau kehandalan yang dilakukan Perpustakaan, maka semakin tinggi kepuasan pemustaka.

5.ASSURANCE (Jaminan)
Assurance meliputi kemampuan pustakawan atas pengetahuan terhadap koleksi, kesopanan, dan sifat dapat diandalkan yang dimiliki para staf pustakawan. Asuransi yaitu keinginan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah pasti sebagai pengganti/substitusi kerugian-kerugian besar yang belum terjadi (Abbas Salim, 2007:1).

Sedangkan indikator untuk jaminan atau assurance,yaitu :
a.Perpustakaan menyampaikan jaminan atas koleksi yang tidak ada atau cacat, dan menyampaikan alternatif lain untuk koleksi yang diperlukan.
Assurance, atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan para pustakawan perpustakaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pemustaka kepada perpustakaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).

Menurut Zeithmal dan Bitner (1996) mengungkapkan bahwa dimensi assurance atau jaminan merupakan gabungan dari dimensi :
a.Kompetensi (competence) yaitu keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki para pustakawan untuk melaksanakan pelayanan.
b.Kosopanan (courtesy) yaitu meliputi keramahan, sikap, perhatian para pustakawan.
c.Kreadibilitas (creadibility) yaitu meliputi hal-hal yang bekerjasama dengan kepercayaan kepada perpustakaan, menyerupai reputasi, prestasi, dan sebagainya.

Perpustakaan sekarang ini harus benar-benar memperhatikan assurance dan juga merupakan salah satu bentuk dimensi dari kualitas pelayanan yang sasaran karenanya berupa kepuasan pemustaka atas koleksi dari perpustakaan tersebut.

Contohnya :
Pada suatu perpustakaan yang seharusnya memperlihatkan banyak hal di dalamnya yang salah satunya yaitu gosip yang dibutuhkan pemustaka. Perpustakaan tersebut mencoba bagaimana caranya biar pemustaka merasa puas dari koleksi perpustakaan tersebut dengan banyak sekali pelayanan yang handal dan jaminan yang terperinci perihal banyak sekali hal termasuk mencari solusi lain apabila gosip yang dibutuhkan tidak ditemukan dalam perpustakaan tersebut.

Dari banyak sekali uraian di atas bahwa betapa pentingnya memperhatikan assurance atau jaminan dalam suatu perpustakaan yang fungsinya untuk menumbuhkan rasa percaya akan banyak sekali hal atas koleksi atau jasa yang ditawarkan oleh perpustakaan tersebut sehingga tercipta kualitas pelayanan yang diharapkan.
Bentuk jaminan yang lain yaitu jaminan terhadap pustakawan yang memiliki perilaku kepribadian (personality behavior) yang baik dalam menyampaikan pelayanan, tentu akan berbeda pustakawan yang memiliki watak atau huruf yang kurang baik dan yang kurang baik dalam menyampaikan pelayanan. (Margaretha, 2003:201). 

Ilmu perpustakaan  Ergonomi Perpustakaan 2

Ilmu perpustakaan Ergonomi Perpustakaan 2

UNSUR-UNSUR LAYANAN PRIMA

Hasil gambar untuk PELAYANAN PRIMA


Untuk menunjukkan layanan prima guna kepuasan konsumen atau pemustaka menurut  Barata  (2004:31) terdapat  6 Unsur  yang harus dimiliki :

·         Kemampuan (Abilty)
·         Sikap (Attitude), Penampilan (Appearance)
·         Tindakan (Action)
·         Perhatian (Attention),
·         Tanggung jawab (Accounttability)

1.      Kemampuan (ability) juga merupakan faktor yang kuat terhadap kinerja, semua orang mungkin sepakat bahwa semakin tinggi kemampuan pustakawan, maka semakin tinggi juga kinerjanya. Demikian pula sebaliknya bila kemampuan pustakawan rendah maka kinerjanya akan rendah.
Di  dalam  kamus  bahasa  Indonesia,  kemampuan  berasal  dari kata  “mampu”  yang  berarti kuasa  (bisa, sanggup,  melakukan  sesuatu, dapat,  berada,  kaya,  mempunyai  harta berlebihan).  Kemampuan yaitu suatu  kesanggupan  dalam  melakukan  sesuatu.  Seseorang dikatakan  mampu  apabila  ia  bisa  melakukan sesuatu  yang  harus  ia lakukan.

Kemampuan, yaitu pengetahuan dan keterampilan tertentu yang mutlak diharapkan untuk menunjang agenda layanan prima, yang meliputi kemampuan dalam bidang kerja yang ditekuni, melaksanakan komunikasi yang efektif, membuatkan motivasi dan menggunakan public relation sebagai instrument dalam membina relasi ke dalam dan ke luar organisasi/perpustakaan;
Sehubungan dengan pelaksanaan pelayanan prima yang dimaksud kemampuan yaitu kemampuan minimal yang harus ada pada diri seseorang, yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan, antara lain :

ü  Memiliki pengetahuan sesuai bidang tugas;
ü  Memiliki keterampilan sesuai bidang tugas;
ü  Memiliki daya kreativitas yang tinggi;
ü  Memahami cara berkomunikasi yang baik;
ü  Memahami cara memposisikan diri dalam banyak sekali situasi semoga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan;
ü  Mampu mengendalikan emosi

Pentingnya Ability  (kemampuan) dalam  sebuah Pelayanan Prima
Pelaksanaan layanan istimewa atau pelayanan prima oleh pihak perpustakaan terhadap para pemustaka, baik itu yang ditunjukkan untuk pemustaka intern maupun pemustaka eksternal mempunyai peran penting dalam kelangsungan perpustakaan sangat tergantung dari loyalitas para pemustaka kepada perpustakaan. Demikian pula halnya bila pelayanan prima ini dilakukan dalam organisasi non komersial maupun pemerintah.

Ada salah satu hal yang patut diperhatikan oleh segenap pustakawan perpustakaan, yaitu kemampuan membudayakan pelayanan prima secara internal yaitu kunci sukses untuk mewujudkan pelayanan prima bagi pemustaka eksternal. Jika kemampuan dalam melaksanakan pelayanan prima di kalangan intern berlangsung baik, maka akan dapat dijadikan sebagai  tolak ukur dalam mewujudkan pelayanan prima bagi lingkungan eksternal. 

Keberhasilan dalam  mengembangkan dan  melaksanakan pelayanan prima tidak terlepas dari kemampuan dalam pemilihan konsep pendekatannya. Konsep pelayanan prima berdasarkan pada A6 (Atep Adya Barata, 2003;31), yaitu membuatkan pelayanan prima dengan menyelaraskan faktor-faktor sikap
sikap

2.      Sikap (attitude) , meliputi tiga prinsip berikut ini:
a.       Melayani pemustaka berdasarkan penampilan yang sopan dan serasi
b.       Melayani pemustaka dengan berpikiran positif,                                                  
c.       Melayani pemustaka dengan sikap menghargai.

3.      Perhatian (Attention)
a.       Mendengarkan dan memahami secara sungguh-sungguh kebutuhan para pemustaka.
b.       Mengamati dan menghargai perilaku para pemustaka.
c.       Mencurahkan perhatian penuh kepada para pemustaka.

4.      Tindakan (Action)
a.       Mencatat setiap pesanan para pemustaka.                                                    
b.       Mencatat kebutuhan para pemustaka.
c.       Menegaskan kembali kebutuhan para pemustaka.                                       
d.       Mewujudkan kebutuhan para pemustaka.
e.       Menyatakan terima kasih dengan keinginan pemustaka mau kembali.

5.      Penampilan (Appearance), dan

6.      Tanggung iawab ( Accountability).

Sedangkan menurut Tjiptono  (2005:58) Pelayanan prima ada 4 unsur pokok, antara lain : 
·         Kecepatan
·         Keramahan
·         Ketepatan
·         Kenyamanan

Keempat unsur tersebut harus merupakan suatu kesatuan layanan yang terintegrasi, sehingga pelayanan tidak dapat dikatakan prima apabila terdapat salah satu unsur yang hilang.
Sebagai contoh, di dalam melayani suatu pertanyaan referensi, seorang pengguna perpustakaan yang berada di daerah yang  nyaman akan tetap kecewa meskipun ia telah mendapatkan balasan yang cepat dan benar tanpa adanya keramahan petugas perpustakaan. 

Dalam menerapkan pelayanan prima maka lima unsur yang diperhatikan yakni : 
a. Sistem, 
b. Sumber Daya Manusia,
c. Fokus Pada Pelanggan,
d. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta dan Data,
e. Kemudian Penggunaan Teknologi Yang Tepat.

Ilmu perpustakaan Dasar-Dasar Antropologi


1. DEFINISI ANTROPOLOGI
Istilah Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Anthropos yang berarti “manusia” dan Logos yang berarti “cara pikir”, “wacana”, “bernalar”, atau dapat juga diartikan sebagai “akal”. 

Jadi, secara harfiah dari istilah tersebut, Antropologi merupakan sebuah olahan cara pikir insan yang dipandang dari banyak sekali aspek kehidupannya atau dalam istilah Antropologi disebut dengan HOLISTIK. 

Hasil (produk) dari olahan cara pikir insan itulah  yang kemudian dikenal dengan ILMU yang dapat diperbaharui sesuai dengan zamannya.

2.DEFINISI ANTROPOLOGI MENURUT AHLI ANTROPOLOGI
  • Havilland (1999) menyatakan bahwa Antropologi merupakan studi wacana keanekaragaman umat insan yang disusun secara lengkap.
  • Koentjaraningrat (1998) mendefinisikan Antropologi sebagai sebuah kajian wacana insan dari aneka warna, bentuk fisik, dan kebudayaannya.
  • Shiddiq (1990-an) mendefinisikan Antropologi sebagai suatu kajian wacana insan yang dipandang dari banyak sekali sudut atau aspek kehidupan, menyerupai tabiat istiadat, tradisi, pengetahuan, norma, seni, dan bahasa.
Kesimpulan!!!
ANTROPOLOGI yakni sebuah kajian, studi, atau ilmu yang berusaha untuk mencapai sebuah pemahaman atau pengertian wacana insan dengan mempelajari wacana warna, bentuk fisik, ras, bahasa, dan kebudayaannya.

3. KAJIAN ANTROPOLOGI
Koentjaraningrat (1998) membagi kajian Antropologi menjadi : 
semua-tentang-perpustakaan.blogspot.com

4. SEJARAH PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI
Antropologi memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang dan melalui proses berpikir yang lama dari para pakarnya. Antropologi lahir karena sebuah desakan dari para pakar yang telah melaksanakan serangkaian penelitian wacana asal mula insan dan budaya. 

Lewis H. Morgan (1818-1881) yakni perintis dan penggagas yang memperlihatkan andil besar pada perkembangan Antropologi, padahal beliau berprofesi sebagai pengacara.

Dari tulisannya yang berjudul Ancient Society (1887) yang mengupas wacana sistem kekerabatan suku Indian yang beragam, Morgan menerima banyak kecaman maupun kebanggaan dari banyak sekali pihak.

Antropologi memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang dan melalui proses berpikir yang lama dari para pakarnya. Antropologi lahir karena sebuah desakan dari para pakar yang telah melaksanakan serangkaian penelitian wacana asal mula insan dan budaya. 

Lewis H. Morgan (1818-1881) yakni perintis dan penggagas yang memperlihatkan andil besar pada perkembangan Antropologi, padahal beliau berprofesi sebagai pengacara.

Dari tulisannya yang berjudul Ancient Society (1887) yang mengupas wacana sistem kekerabatan suku Indian yang beragam, Morgan menerima banyak kecaman maupun kebanggaan dari banyak sekali pihak.
Seorang andal Geografi berjulukan Frans Boas muncul dengan segudang informasi-informasi akurat melalui banyak sekali studi lapangan yang telah dilakukannya. Meskipun latarbelakang pendidikannya Geografi, tapi hasil-hasil karya Boas justru lebih banyak mengkaji wacana insan dan kebudayaan, menyerupai dalam salah satu bukunya yang berjudul “The Central of Eskimo”. Oleh karena itu, Frans Boas kemudian dijuluki sebagai BAPAK PENDIRI ANTROPOLOGI atau The Founding Father of Anthropology.

Pada perkembangan selanjutnya, Antropologi justru menjadi ilmu dari segala ilmu. Jika meminjam istilah para pakar Antropologi, “Antropologi merupakan DEWA dari semua ilmu yang berkembang ketika ini”.

5. RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI
A. Kategorisasi Masalah, terdiri dari:
  • Evolusi Manusia atau sejarah perkembangan manusia
  • Ragam insan yang dipandang dari ciri-ciri fisik
  • Penyebaran bahasa diseluruh dunia
  • Budaya suku bangsa

B. Cabang Ilmu, terdiri dari:
  • Paleo-antropologi
  • Antropologi Fisik
  • Prasejarah
  • Etnolinguistik
  • Etnografi

6. HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA
  • Hubungan Antropologi dengan Sosiologi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek sosialnya, menyerupai cara insan berperilaku dan berinteraksi satu sama lain yang dibatasi oleh norma atau nilai tertentu.
  • Hubungan Antropologi dengan Psikologi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek psikologisnya, menyerupai cara insan berperilaku dilingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya.
  • Hubungan Antropologi dengan Sejarah, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek asal usulnya, menyerupai cara insan hidup dari satu fase ke fase lainnya.
  • Hubungan Antropologi dengan Geografi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek tata ruang bumi, menyerupai bagaimana cara insan mengikuti keadaan dengan kondisi lingkungannya (cuaca, suhu, iklim, dll).
  • Hubungan Antropologi dengan Ekonomi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek ekonomi, menyerupai bagaimana cara insan melaksanakan transaksi jual beli, menukarkan uang, dsb.
  • Hubungan Antropologi dengan Politik, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek kekuasaan dan kedudukan, menyerupai bagaimana cara insan berkuasa dan mempertahankan kekuasaannya berdasarkan tabiat istiadat setempat.
Lantas, bagaimana relasi Antropologi dengan Ilmu Komunikasi? Para pakar Antropologi sepakat bahwa relasi kedua ilmu tersebut terletak pada bagaimana cara insan mencapai satu janji atau kesamaan pengertian melalui bahasa  dan simbol-simbol yang mereka gunakan.

Contoh:
Orang Indonesia dan orang Amerika saling berjabat tangan ketika keduanya bertegur sapa. Sedangkan Orang Korea dan Orang Jepang saling membungkuk ketika keduanya bertegur sapa. Orang Eskimo saling menempelkan hidung ketika keduanya saling bertegur sapa.

7. KONSEP DALAM ANTROPOLOGI
  • Kebudayaan, yaitu suatu kumpulan pengetahuan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi. Kebudayaan juga merujuk pada warisan sosial, menyerupai tradisi sopan santun dan kesenian.
  • Evolusi, yaitu suatu gagasan mengenai bentuk-bentuk kehidupan insan yang berkembang dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Proses evolusi pada umumnya berubah perlahan namun pasti.
  • Culture Area (daerah kebudayaan), yaitu suatu tempat geografis yang memiliki ciri-ciri budaya tertentu. Biasanya unsur-unsur budaya gres akan menggeser budaya lama sampai sekeliling tempat tersebut dipenuhi dengan budaya baru.
  • Enkulturasi, yaitu suatu proses pembelajaran kebudayaan. Pada hakikatnya, semenjak kecil insan mengalami proses enkulturasi menyerupai sopan santun pada orangtua, table manner, dll.
  • Difusi, yaitu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara luas sampai melewati batas tempat budaya tersebut timbul. Sifat difusi dekat kaitannya dengan: (1) Inovasi, (2) Komunikasi dengan susukan tertentu, (3) Waktu, (4) Sikap masyarakat.
  • Akulturasi, yaitu proses pertukaran atau saling mensugesti antar budaya sampai pada kesudahannya budaya tersebut menjadi budaya sendiri.
  • Etnosentrisme, yaitu suatu pandangan bahwa budaya sendiri lebih baik daripada budaya lain.
  • Tradisi, yaitu suatu contoh perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi adegan dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat-istiadat dan kepercayaan yang secara turun-temurun.
  • Ras & Etnik. RAS yakni sekelompok orang yang memiliki sejumlah ciri biologi (fisik) tertentu atau suatu populasi yang memiliki suatu kesamaan dalam sejumlah unsur biologis/fisik yang khas yang disebabkan oleh faktor keturunan. ETNIK lebih menekankan sebagai kelompok sosial adegan dari ras yang memiliki ciri-ciri budaya yang unik sifatnya.
  • Stereotip, yaitu suatu generalisasi yang relatif tetap mengenai kelompok atau kelas insan yang menjurus pada hal-hal negatif ataupun tidak menguntungkan.
  • Magis, yaitu mengemukakan bahwa magis merupakan penerapan yang salah pada pikiran insan dengan maksud untuk mendukung hukum alam yang  palsu .
  • Tabu, yaitu pemisahan antara yang cemar dan suci dimaksudkan untuk menciptakan solidaritas kelompok. 
  • Perkawinan, yaitu mengacu pada proses formal pemaduan relasi dua individu yang bebeda jenis dengan aksentuasi pada hak dan tanggung jawab yang ditimbulkan, tidak hanya antara suami dan istri, tetapi juga antara kerabat (kin) kedua belah pihak.
  • Kekerabatan, yaitu merujuk kepada tipologi pembagian terstruktur mengenai kerabat menurut penduduk tertentu berdasarkan aturan-aturan keturunan dan aturan-aturan perkawinan.

Ilmu perpustakaan Dasar-Dasar Antropologi


1. DEFINISI ANTROPOLOGI
Istilah Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Anthropos yang berarti “manusia” dan Logos yang berarti “cara pikir”, “wacana”, “bernalar”, atau dapat juga diartikan sebagai “akal”. 

Jadi, secara harfiah dari istilah tersebut, Antropologi merupakan sebuah olahan cara pikir insan yang dipandang dari banyak sekali aspek kehidupannya atau dalam istilah Antropologi disebut dengan HOLISTIK. 

Hasil (produk) dari olahan cara pikir insan itulah  yang kemudian dikenal dengan ILMU yang dapat diperbaharui sesuai dengan zamannya.

2.DEFINISI ANTROPOLOGI MENURUT AHLI ANTROPOLOGI
  • Havilland (1999) menyatakan bahwa Antropologi merupakan studi wacana keanekaragaman umat insan yang disusun secara lengkap.
  • Koentjaraningrat (1998) mendefinisikan Antropologi sebagai sebuah kajian wacana insan dari aneka warna, bentuk fisik, dan kebudayaannya.
  • Shiddiq (1990-an) mendefinisikan Antropologi sebagai suatu kajian wacana insan yang dipandang dari banyak sekali sudut atau aspek kehidupan, menyerupai tabiat istiadat, tradisi, pengetahuan, norma, seni, dan bahasa.
Kesimpulan!!!
ANTROPOLOGI yakni sebuah kajian, studi, atau ilmu yang berusaha untuk mencapai sebuah pemahaman atau pengertian wacana insan dengan mempelajari wacana warna, bentuk fisik, ras, bahasa, dan kebudayaannya.

3. KAJIAN ANTROPOLOGI
Koentjaraningrat (1998) membagi kajian Antropologi menjadi : 
semua-tentang-perpustakaan.blogspot.com

4. SEJARAH PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI
Antropologi memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang dan melalui proses berpikir yang lama dari para pakarnya. Antropologi lahir karena sebuah desakan dari para pakar yang telah melaksanakan serangkaian penelitian wacana asal mula insan dan budaya. 

Lewis H. Morgan (1818-1881) yakni perintis dan penggagas yang memperlihatkan andil besar pada perkembangan Antropologi, padahal beliau berprofesi sebagai pengacara.

Dari tulisannya yang berjudul Ancient Society (1887) yang mengupas wacana sistem kekerabatan suku Indian yang beragam, Morgan menerima banyak kecaman maupun kebanggaan dari banyak sekali pihak.

Antropologi memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang dan melalui proses berpikir yang lama dari para pakarnya. Antropologi lahir karena sebuah desakan dari para pakar yang telah melaksanakan serangkaian penelitian wacana asal mula insan dan budaya. 

Lewis H. Morgan (1818-1881) yakni perintis dan penggagas yang memperlihatkan andil besar pada perkembangan Antropologi, padahal beliau berprofesi sebagai pengacara.

Dari tulisannya yang berjudul Ancient Society (1887) yang mengupas wacana sistem kekerabatan suku Indian yang beragam, Morgan menerima banyak kecaman maupun kebanggaan dari banyak sekali pihak.
Seorang andal Geografi berjulukan Frans Boas muncul dengan segudang informasi-informasi akurat melalui banyak sekali studi lapangan yang telah dilakukannya. Meskipun latarbelakang pendidikannya Geografi, tapi hasil-hasil karya Boas justru lebih banyak mengkaji wacana insan dan kebudayaan, menyerupai dalam salah satu bukunya yang berjudul “The Central of Eskimo”. Oleh karena itu, Frans Boas kemudian dijuluki sebagai BAPAK PENDIRI ANTROPOLOGI atau The Founding Father of Anthropology.

Pada perkembangan selanjutnya, Antropologi justru menjadi ilmu dari segala ilmu. Jika meminjam istilah para pakar Antropologi, “Antropologi merupakan DEWA dari semua ilmu yang berkembang ketika ini”.

5. RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI
A. Kategorisasi Masalah, terdiri dari:
  • Evolusi Manusia atau sejarah perkembangan manusia
  • Ragam insan yang dipandang dari ciri-ciri fisik
  • Penyebaran bahasa diseluruh dunia
  • Budaya suku bangsa

B. Cabang Ilmu, terdiri dari:
  • Paleo-antropologi
  • Antropologi Fisik
  • Prasejarah
  • Etnolinguistik
  • Etnografi

6. HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA
  • Hubungan Antropologi dengan Sosiologi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek sosialnya, menyerupai cara insan berperilaku dan berinteraksi satu sama lain yang dibatasi oleh norma atau nilai tertentu.
  • Hubungan Antropologi dengan Psikologi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek psikologisnya, menyerupai cara insan berperilaku dilingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya.
  • Hubungan Antropologi dengan Sejarah, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek asal usulnya, menyerupai cara insan hidup dari satu fase ke fase lainnya.
  • Hubungan Antropologi dengan Geografi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek tata ruang bumi, menyerupai bagaimana cara insan mengikuti keadaan dengan kondisi lingkungannya (cuaca, suhu, iklim, dll).
  • Hubungan Antropologi dengan Ekonomi, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek ekonomi, menyerupai bagaimana cara insan melaksanakan transaksi jual beli, menukarkan uang, dsb.
  • Hubungan Antropologi dengan Politik, yaitu bagaimana insan ditinjau dari aspek kekuasaan dan kedudukan, menyerupai bagaimana cara insan berkuasa dan mempertahankan kekuasaannya berdasarkan tabiat istiadat setempat.
Lantas, bagaimana relasi Antropologi dengan Ilmu Komunikasi? Para pakar Antropologi sepakat bahwa relasi kedua ilmu tersebut terletak pada bagaimana cara insan mencapai satu janji atau kesamaan pengertian melalui bahasa  dan simbol-simbol yang mereka gunakan.

Contoh:
Orang Indonesia dan orang Amerika saling berjabat tangan ketika keduanya bertegur sapa. Sedangkan Orang Korea dan Orang Jepang saling membungkuk ketika keduanya bertegur sapa. Orang Eskimo saling menempelkan hidung ketika keduanya saling bertegur sapa.

7. KONSEP DALAM ANTROPOLOGI
  • Kebudayaan, yaitu suatu kumpulan pengetahuan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi. Kebudayaan juga merujuk pada warisan sosial, menyerupai tradisi sopan santun dan kesenian.
  • Evolusi, yaitu suatu gagasan mengenai bentuk-bentuk kehidupan insan yang berkembang dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Proses evolusi pada umumnya berubah perlahan namun pasti.
  • Culture Area (daerah kebudayaan), yaitu suatu tempat geografis yang memiliki ciri-ciri budaya tertentu. Biasanya unsur-unsur budaya gres akan menggeser budaya lama sampai sekeliling tempat tersebut dipenuhi dengan budaya baru.
  • Enkulturasi, yaitu suatu proses pembelajaran kebudayaan. Pada hakikatnya, semenjak kecil insan mengalami proses enkulturasi menyerupai sopan santun pada orangtua, table manner, dll.
  • Difusi, yaitu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara luas sampai melewati batas tempat budaya tersebut timbul. Sifat difusi dekat kaitannya dengan: (1) Inovasi, (2) Komunikasi dengan susukan tertentu, (3) Waktu, (4) Sikap masyarakat.
  • Akulturasi, yaitu proses pertukaran atau saling mensugesti antar budaya sampai pada kesudahannya budaya tersebut menjadi budaya sendiri.
  • Etnosentrisme, yaitu suatu pandangan bahwa budaya sendiri lebih baik daripada budaya lain.
  • Tradisi, yaitu suatu contoh perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi adegan dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat-istiadat dan kepercayaan yang secara turun-temurun.
  • Ras & Etnik. RAS yakni sekelompok orang yang memiliki sejumlah ciri biologi (fisik) tertentu atau suatu populasi yang memiliki suatu kesamaan dalam sejumlah unsur biologis/fisik yang khas yang disebabkan oleh faktor keturunan. ETNIK lebih menekankan sebagai kelompok sosial adegan dari ras yang memiliki ciri-ciri budaya yang unik sifatnya.
  • Stereotip, yaitu suatu generalisasi yang relatif tetap mengenai kelompok atau kelas insan yang menjurus pada hal-hal negatif ataupun tidak menguntungkan.
  • Magis, yaitu mengemukakan bahwa magis merupakan penerapan yang salah pada pikiran insan dengan maksud untuk mendukung hukum alam yang  palsu .
  • Tabu, yaitu pemisahan antara yang cemar dan suci dimaksudkan untuk menciptakan solidaritas kelompok. 
  • Perkawinan, yaitu mengacu pada proses formal pemaduan relasi dua individu yang bebeda jenis dengan aksentuasi pada hak dan tanggung jawab yang ditimbulkan, tidak hanya antara suami dan istri, tetapi juga antara kerabat (kin) kedua belah pihak.
  • Kekerabatan, yaitu merujuk kepada tipologi pembagian terstruktur mengenai kerabat menurut penduduk tertentu berdasarkan aturan-aturan keturunan dan aturan-aturan perkawinan.